Psikologi dalam Desain Komunikasi Visual

Sering kali orang bertanya-tanya   ada hubungan apa antara ilmu psikologi dan desain.   Banyak mahasiswa  jurusan desainpun terkadang ada yng bertanya korelasi kedua ilmu tersebut. Begitu pula  mahasiswa jurusan psikologi masih mencari-cari kira-kira hubungan apa saja yang berkaitan.

Pada makalah ini penulis berusaha menunjukkan sedikitnya 3 hal utama dari  psikologi yang menjadi dasar  didalam pembentukan  dan pengembangan  konsep-koinsep desain.  Ketiga hal itu adalah :

1.  Psikologi Kognitif / Gestalt
Pada sekitar akhir tahun 1900 riset tenatng teori Gestalt dikembangkan oleh oleh Max Wertheimer, Wolfgang Köhler, and Kurt Koffka yang memperkenalkan pendekatan gestalt pada persepsi bentuk. Psikologi Gestalt merupakan suatu pendekatan yang menekankan bahwa organisme manusia memiliki kecenderungan dasar mengorganisasikan (mengatur dengan sendirinya) apa yang dilihat atau dipersepsikan, dan bahwa suatu keseluruhan (whole) lebih besar dan penting daripada bagian-bagian (parts).  (Suharnan, 2005).
Menurut teori Gestalt secara alamiah manusia meimiliki kecenderungan-kecenderungan tertentu dan melakukan penyederhanaan struktur didalam mengorganisasikan objek-objek persepsual (Brennan 1991, Hayes 1978, dalam Suharnan 2005)
Adapun prinsip-prinsip pengorganisasian dalam teori gestalt adalah :

  1. Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
  2. Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
  3. Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya
  4. Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola
  5. Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.
  6. Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi.
  7. Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks.

2. Perilaku Manusia / konsumen
Psikologi adalah Ilmu yang mempelajari perilaku yang nampak dan perilaku yang tidak nampak.  Seorang desainer  komunikasi visual ketika membuat strategi komunikasi untuk karya iklannya membutuhkan pengetahuan dan pemahaman tentang siapa dan bagaimana perilaku konsumennya. Hal-hal apa yang mempengaruhi perilaku tersebut. Mengapa perilaku tersebut muncul  dan bagaimana mengarahkan perilaku tersebut agar sesuai dengan tujuan iklan.
Semua keputusan strategi promosi yang tanpa didasari kajian dan pemahaman tentang perilaku konsumennya maka akan sia-sia. Hasil yang dicapai tidak akan maksimal atau bahkan sama-sekali tidak mengenai sasaran.
Pada intinya perilaku konsumen didefinisikan sebagai tindakan konsumen yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini. ( Engel, Blacweell, Miniard, 1994).

3. Teori Kreativitas
Seorang desainer bisa dianalogikan sebagai seorang yang kreatif. Seorang yang kreatif menghasilkan pemikiran dan  karya-karya  yang  out of the box, karya-karya yang inovatif sehingga bisa memecahkan masalah-masalah yang belum terpikirkan oleh orang lain.
Berdasarkan uraian diatas maka seorang desainer harus memiliki pola pikir kreatif.  Pola pikir kreatif ini perlu dipelajari dan terus dilatih. Pola pikir  kreatif memerlukan imajinasi misalnya fantasi, angan-angan, impian, dan berorientasi pada diri seseorang. Proses berpikir kreatif bersifat sejajar (pararel), dapat pola pikir yang melompat-lompat  yang akan membawa seseorang pada penemuan gagasan ataupun jawaban yang banyak.
Pola fikir kreatif bersifat diverjen; diawali suatu uraian persoalan, kemudian menyebar agar dapat menghasilkan berbagai macam pendekatan dan gagasan bagi pemecahan masalah. (Suharnan, 2011).  Hal ini berlawanan dengan pola pikir analitis yang bersifat konverjen atau menyempit dan vertikal yang dalam artian bersifat logis, jawaban sedikit, pembuktian yang mendalam menyempit dalam keseluruhan aspek.

Penulis : Santoso Lim, S.Sn, M.Psi

Daftar Pustaka

Engel, Blacweell, Miniard, 1994, Perilaku Konsumen, Penerbit Binarupa Aksara,  Jakarta Cetakan Pertama, 1994

Graham, 2008, Gestalt Theory in Interactive Media Design, Journal of Humanities & Social Science, University of Texas at Arlington

Prinsip Teori Gestalt, http://newjoesafirablog.blogspot.com/2012/05/prindip-teori-gestalt.html

Suharnan., 2005,  Psikologi Kognitif,  Penerbit Srikandi,  Surabaya, Cetakan Pertama, Oktober 2005

Suharnan., 2011,  Kreativitas,  Penerbit Laros,  Surabaya, Cetakan Pertama, Mei 2011

  • Share/Bookmark
3,972 Total Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website